Khilafiyah Penetapan Awal Ramadlan & Syawwal

Minggu, 27 Desember 2009
Dalam hadits Nabi (Ibanatul Ahkam, juz 2, hal. 2370) disebutkan :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَصُوْمُوْا وَاِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ. (متفق عليه
Artinya : dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda : “Ketika kalian melihat hilal (1 Ramadlan) maka berpuasalah dan ketika melihat hilal (1 Syawwal) maka berhentilah puasa, dan apabila terhalang awan maka kira-kirakanlah”. (Muttafaq ‘Alaih)


وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِى مَعْنَى (فَاقْدُرُوْا لَهُ) فَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ : مَعْنَاهُ ضَيِّقُوْا لَهُ وَقَدَّرُوْهُ تَحْتَ السَّحَابِ، وَمِمَّنْ قَالَ بِهَذَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَغَيْرُهُ مِمَّنْ يَجُوْزُ صَوْمَ يَوْمِ لَيْلَةِ الْغَيْمِ عَنْ رَمَضَانَ كَمَا سَنَذْكُرُهُ – إِنْشَاءَ اللهُ تَعَالَى. (شرح مسلم جزء 4 ص.44
“Para Ulama berselisih pendapat mengenai makna فاقدروا له, segolongan ulama berpendapat : “Makna dari hadits di atas adalah ... kira-kirakanlah keberadaan bulan sabit di balik awan itu!”. Termasuk dalam golongan ini adalah Ahmad bin Hanbal yang memperbolehkan (memulai) puasa Ramadlan di saat malam harinya cuaca diselimuti awan, sebagaimana keterangan yang akan aku tuturkan Insya Allah.” (Syarh Muslim, hal. 44).

  •  Penentuan Menggunakan Ru’yah  
 وَذَهَبَ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَبُوْ حَنِيْفَةٍ وَجُمْهُوْرُ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ إِلَى أَنَّ مَعْنَاهُ: قَدَّرُوْا لَهُ تَمَامَ الْعَدَدِ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا.
 Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Abu Hanifah dan Jumhur Ulama menafsirkan arti qoddaru lahu dengan menyempurnakan 30 hari.

Menurut redaksi lain, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dikatakan :
فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ ثَلاَثِيْنَ
“Dan jika cuaca berawan, maka kira-kirakanlah 30 hari”
Menurut redaksi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori :
فَأَكْمِلُوا اْلعِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ
“Maka sempurnakanlah bilangan (bulan) 30 hari”

Kesimpulan :
Penentuan 1 Ramadlan dan 1 Syawwal harus berpegang kepada hasil ru’yah. Dan jika ternyata tidak ada yang berhasil melihat hilal (bulan sabit), karena tertutup awan (misalnya), maka harus menyempurnakan bilangan bulan menjadi 30 hari.
  • Penentuan menggunakan Hisab
 وَقَالَ ابْنُ سُرَيْجٍ وَجَمَاعَةٌ مِنْهُمْ : مُطَرِّف بِنْ عَبّْدِ اللهِ وَبْنُ قُتَيْبَةَ وَآخَرُوْنَ - : مَعْنَاهُ قَدَّرُوْهُ بِحِسَابِ الْمَنَازِلِ
Artinya : “Berkata Ibnu Syuraij dan segolongan Ulama’ termasuk di antaranya Muthorrif bin Abdillah, Ibnu Qutaibah dan yang lainnya : “Makna dari hadits di atas adalah ... kira-kirakan keberadaan bulan sabit dengan menggunakan ilmu hisab”.

Mereka menggunakan hadits yang sama, hanya saja mempunyai pemahaman yang berbeda mengenai :

Kesimpulan :
Menurut penafsiran Ibnu Syuraij, Muthorrif bin Abdillah dan Ibnu Qutaibah, ilmu hisab hanya digunakan pada saat-saat cuaca berawan / berkabut, sehingga menutupi pandangan mata dari melihat hilal, tidak ketika dalam keadaan cuaca terang.

0 komentar:

Posting Komentar

banner125125 bannerclixsense facebook ads_box ads_box
 

Latest Template

Followers