Dalam kitab Fathul Bari dijelaskan tentang perselisihan pendapat mengenai rukyah ketika hilal tertutup awan/mendung :
قَالَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِى "التَّحْقِيْقِ" ِلأَحْمَدَ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ وَهِيَ مَا إِذَا حَالَ دُوْنَ مَطْلِعِ الْهِلاَلِ غَيْمٌ أَوْ قَتَرٌ لَيْلَةَ الثَّلاَثِيْنَ مِنْ شَعْبَانَ – ثَلاَثَةُ أَقْوَالٍ : اَحَدُهَا يَجِبُ صَوْمُهُ عَلَى أَنَّهُ مِنْ رَمَضَانَ، ثَانِيْهَا لاَيَجُوْزُ فَرْضًا وَلاَنَفْلاً مُطْلَقًا، بَلْ قَضَاءً وَكَفَّارَةً وَنَذْرًا وَنَفْلاً يُوَافِقُ عَادَةً، وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ. وَقَالَ مَالِكٌ وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ لاَيَجُوْزُ عَنْ فَرْضِ رَمَضَانَ وَيَجُوْزُ عَمَّا سِوَى ذَالِكَ. ثَالِثُهَا الْمَرْجِعُ إِلَى رَأْيِ اِلإِمَامِ فِى الصَّوْمِ وَالْفِطْرِ إهـ فَتْحُ الْبَارِي
Artinya : Berkata Ibnu al-Jauzi di dalam kitab “at-Tahqiqi” : “Dalam masalah ini, yakni ketika malam tanggal 30 Sya’ban posisi hilal terhalang awan atau kabut, maka dalam hal ini terdapat tiga pendapat :
- Wajib berpuasa dan mulai malam itu Ramadlan sudah masuk.
- Tidak diperbolehkan berpuasa sunnah maupun fardlu, akan tetapi hanya diperbolehkan menjalani puasa qodlo’, kaffarat, nadzar dan puasa sunnah yang bertepatan dengan kebiasaannya. Dan ini merupakan pendapat Imam as-Syafi’i. sementara itu Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat : “Tidak diperbolehkan berpuasa Ramadlan, namun untuk selain puasa Ramadlan diperbolehkan.”.
- Dalam hal wajib dan tidaknya berpuasa dikembalikan kepada pendapat Imam (Pemerintah).
0 komentar:
Posting Komentar